Ust.Faruq Jamaluddin

Menurut Syekh ‘Abdul Qadir Jailani, manusia itu terbagi menjadi 4 (empat), yaitu:

*1. Orang yang tidak mempunyai lisan dan tidak mepunyai hati.*
Ini adalah tipe orang durhaka, lalai dan jahil. Berati-hatilah jangan sampai kamu seperti mereka dan janganlah bergaul bersama mereka, sebab mereka itu layak mendapat azab.

*2. Orang yang berlisan tetapi tidak berhati.*
Kata-kata orang seperti ini mengandung hikmah, tetapi ia sendiri tidak pernah mengamalkannya. Ia mengajak manusia untuk beriman dan beramal shalih serta bertakwa kepada Allah, sementara dia sendiri mengkufuri dan menjauhi Allah. Oleh karena itu, jauhilah mereka supaya anda tidak tertipu oleh keindahan perkataan mereka yang bisa membuat diri anda terbakar oleh api kemaksiatan mereka atau terjerumus oleh kebusukan hati mereka.

*3. Orang yang memiliki hati tetapi tidak memiliki lisan.*
Ini adalah tipe orang mukmin yang disembunyikan oleh Allah dari pandangan mahluk-Nya. Allah membukakan mata hatinya hingga dapat melihat kekurangan dirinya, menerangi hatinya dan mengenalkan kepadanya bencana banyak bergaul dengan orang lain dan musibah yang diakibatkan oleh banyak bicara. Sebenarnya dia adalah kekasih Allah yang disembunyikan dalam pemeliharaan-Nya, padahal dia memiliki banyak kebaikan dalam dirinya. Gaulilah olehmu orang yang seperti ini dan berkhidmadlah kepadanya, niscaya Allah pun akan mencintai Anda.

*4. Orang yang mau belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya.*
Ia betul-betul mengenal Allah dan memahami ayat-ayat-Nya. Allah memberinya ilmu yang tidak diketahui oleh banyak orang dan Allah melapangkan dadanya untuk menerima bermacam-macam ilmu. Oleh karena itu, berhati-hatilah kamu, jangan sampai menyelisihinya, menjauhinya dan meninggalkan nasihatnya.”

Perlu diketahui pada dasarnya zuhud itu adalah
a. Menjauhi semua yang diharamkan, baik yang besar maupun yang kecil. Sikap ini akan mewariskan sifat wara’ (hati-hati). Menunaikan semua yang diwajibkan, baik yang mudah maupun yang sulit. Sikap ini akan mewariskan tobat dan kembali ke jalan Allah sehingga hati pelakunya akan beroleh penerangan dan terhindar dari kesyubuhatan, terlebih lagi dari hal-hal yang diharamkan.
b. Membiarkan urusan duniawi ditangani oleh ahlinya, baik yang kecil maupun yang besar. Biarlah kita tidak usah ikut-ikut dan bersibuk-sibuk dengan urusan dunia. Sikap ini melahirkan qana’ah (menerima apa adanya), tawakkal dan percaya/yakin kepada apa yang ada di sisi Allah serta tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain.

[Nashoihul Ibad]

Disampaikan Ust Faruq Jamaluddin

Tinggalkan Balasan

Designed with WordPress

Eksplorasi konten lain dari IHYAUL QUR'AN NURURRAHMAN

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca