Oleh : KH.Masruri Abd Muhit

Dalam suatu hadis riwayat Imam Ahmad dari Thoriq bin Syihab, rosulullah saw bersabda, ada seorang masuk surga lantaran lalat dan ada seorang masuk neraka karena lalat juga.

Saat ditanya bagaimana ceritanya, beliau menerangkan, ada dua orang melewati suatu kaum yg memiliki berhala, tidak seorangpun boleh melewatinya kecuali setelah berkorban untuknya, maka kaum itu berkata kepada salah satunya, silahkan berkorban. Orang itu mengatakan, saya tidak mempunyai sesuatu yg bisa saya korbankan. Merekapun mengatakan, berkorbanlah walau hanya dengan seekor lalat. Maka berkorbanlah orang itu dengan seekor lalat dan diperbolehkan untuk meneruskan perjalanannya, maka masuklah dia ke dalam neraka. Untuk kemudian mereka berkata kepada yg satunya lagi, berkorbanlah. Orang itu menjawab, saya tidak mungkin berkorban untuk seorangpun selain Allah ‘azza wa jalla. Maka merekapun memenggal leher orang itu, dan dia masuk surga.

Satu hal yg perlu digaris bawahi disini bahwa yg penting dalam berkorban itu masalah hati dan keyakinan, meskipun hanya dengan seekor lalat, bisa menghantarkan imma ke neraka atau surga, itu masalah niat hati dan keyakinan.

Hadis di atas dalam kitab Tauhid, dimasukkan di bawah bab ma ja’a fiddzabhi lighoirillah, bab yang berkaitan dengan tentang menyembelih (korban) karena selain Allah, dan saat mengomentari hadis itu disebutkan salah satu kesimpulannya bahwa pekerjaan hati (amalul qolbi) itulah tujuan paling utama dan agung, sampai bagi para penyembah berhala.

Ketika berbicara tentang binatang sembelihan kurban, Allah swt menyatakan bahwa daging daging dan darah darah kurban itu tidak akan sampai kepadaNya tetapi taqwa kalianlah yg akan sampai kepadaNya.

Yg dinilai oleh Allah adalah nilai pengorbanannya, maka bisa jadi korban seekor kambing dari seorang yg pas pasan lebih tinggi nilainya dari pada korban seekor sapi dari seorang milyarder.

Saya sering memberikan keterangan dalam hal ini dengan memberikan perbandingan bila si A yg memiliki uang Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) berinfaq Rp 10.000,- , sementara si B yg memiliki uang Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) berinfaq Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah), maka infaq si A yg hanya sepuluh ribu rupiah lebih besar dari pada infaq si B yg besarnya satu juta, karena infaq si A itu 1 % dari yg dimilikinya, sementara infaq si B itu 0,1 % dari yg dimilikinya.

Untuk itulah rosulullah saw melarang kita untuk meremehkan atau mencela sahabat beliau, karena pengorbanan dan infaq kita satu gunung uhud emas tidak bisa menyamai nilai pengorbanan dan infaq satu mud bahkan setengah mud mereka.

Besaran korban bukan dari banyak dan besarnya jumlah pengorbanan tetapi lebih dari besaran nilai pengorbanan itu sendiri.

Maka jangan takut berkorban atau berinfaq meski hanya kecil atau sedikit, dan jangan terlalu berbangga diri dengan korban atau infaq yg kelihatannya besar atau banyak.

Suatu ketika rosulullah saw ditanya tentang sodaqoh yang paling besar (Ayyu sodaqotin a’dzomu?), beliau menjawab, an tatasoddaqo wa anta sohihun syahihun takhsyal faqro wa ta’malul gina, engkau bersedekah (berkorban) sementara engkau masih sehat dan butuh, engkau masih takut fakir dan masih ingin kaya.

Salah satu sifat orang orang yg bertaqwa adalah berinfaq dalam keadaan senang atau susah (alladzina yunfiquna fissarro’i waddorro’). Artinya sifat memberi dan berkorban itu menjadi kebiasaan bahkan passion gaya hidup life styl orang orang yang bertaqwa.

Semoga bermanfaat dan berkah.

Tinggalkan Balasan

Designed with WordPress

Eksplorasi konten lain dari IHYAUL QUR'AN NURURRAHMAN

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca