Apakah Iqro’ bermaksud membaca atau menghafal ?

🍳 Kalimat iqro’ adalah musytarok bisa bermaksud membaca? , menghafal ?, menganalisis dst tergantung keadaan yang dikehendakinya, untuk lebih jelasnya dapat dicontohkan sebagai berikut :

Pertama : Jika dalam pertandingan MTQ tingkat internasional dan yang menjadi juri atau hakim adalah orang arab dan pesertanya juga kebetulan orang Arab maka ketika hakim menyuruh peserta misalnya : Ya akhi iqro’ surah alkahfi minal ayatil ula ilal ‘asyiroh….tentu yang dimaksudkan dari perintah kalimat ‘Iqro’ ini adalah BACALAH sebab memang dalam majlis musababaqoh tilawah alquran.

Kedua : Namun jika dalam MHQ atau Musabaqoh Hifdzil Qur’an tingkat internasional kalimat yang digunakan seorang juri atau hakim juga sama yaitu : Ya akhi IQRO’ surah alkahfi minal ayati ula ilal ‘Asyiroh…..namun karena ini dalam musabaqoh HIFDZIL Qur’an sehingga yang dikehendaki dari kalimat IQRO’ tersebut adalah Hafalkan dan bukan membaca alqur’an, sebab jika peserta membaca maka batallah penyertaannya, hal ini membuktikan bahwa pemakaian kalimat IQRO’ itu tergantung pada KEADAANNYA.

Kemudian apakah kalimat IQRO’ yang ada di dalam surah al-‘alaq itu bermaksud membaca ataukah menghafal ? menurut pendapat saya yang dikehendaki dari keadaan kalimat IQRO’ tersebut adalah HAFALKAN dan bukan BACAKAN, mengapakah bisa demikian, sebab KEADAAN Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam adalah seorang nabi yang ‘UMMI’ atau tidak bisa membaca dan menulis (QS. Al-A’rof : 157 dan QS. Al-‘Ankabut : 48), sehingga cara yang paling tepat di dalam mempelajari wahyu ALLAH Subhanahu Wata’ala untuk baginda adalah melalui menghafal dan bukan membaca (QS. Alqiyamah : 18), dan ini terbukti setelah baginda kembali ke rumah setelah menerima wahyu baginda sudah hafal dan membacakan surah al-‘alaq ayat 1-5 kepada isterinya dan kepada seorang pendeta Waroqoh bin naufal.

Oleh sebab itu di dalam surah alqiyamah ayat 18 nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam diajarkan bagaimanakah cara menghafal alquran dengan betul yaitu : Faidza Qoro’naahu fattabi’ Qur aanahu, maksudnya : Dan apabila Kami telah membacakan atau mentalqinkan alquran kepadamu (wahai Muhammad) maka ikutilah bacaannya atau bunyinya.

Sehingga sejak pertama kali alquran diturunkan baginda menjaganya melalui hafalan bittalqin atau bunyi atau talaqqi musyafahah kepada para sahabat dan baru ditulis pada zaman kholifah Usman bin Affan, itupun masih belum ada harokat atau barisnya, barulah pada zaman Abul Aswad Adduali beliau meletakkan harokat atau baris.

Maka hadis yang menyebutkan tentang kalimat AQROUHUM yaitu : Yaummul Qouma AQROUHUM likitabillah, ……yang dimaksud dari AQROUHUM bukanlah yang paling baik bacaannya, akan tetapi yang paling baik hafalannyalah yang paling berhak dijadikan imam solat utk suatu kaum, sebab kalimat IQRO’ dalam konteks ini bermaksud menghafal dan bukan membaca. Smoga bermanfaat.

Oleh: Ust. H. Muhammad Marzuqi Ihsan Alhafidz
Pengagas Metode Super Tahfidz

Tinggalkan Balasan

Designed with WordPress

Eksplorasi konten lain dari IHYAUL QUR'AN NURURRAHMAN

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca