Orang bodoh yang bisa mengekang hawa nafsu atau orang ‘alim yang dipenuhi nafsu ?

وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ فَأَىُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ.
Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik daripada berkawan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu, apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya.
Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhaan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau memimpin hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.
Dalam sebuah hadits ada keterangan:
المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرُ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
Seorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dikawaninya.
Ahli syair berkata:
مَنْ عَاشَرَ الْاَشْرَافَ عَاشَ مُشَرَّفًا وَمُعَاشِرُ الْأَنْذَالِ غَيْرُ مُشَرَّفٍ.
Siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya, pasti tidak mulia.