
VISI,MISI DAN MOTTO
PONDOK IHYAUL QUR’AN NURURRAHMAN

Memadukan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dengan semangat modernitas, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
VISI
Terwujudnya santri yang berkarakter Qur’ani, berwawasan global, adaptif terhadap kemajuan zaman, serta menjadi agen perubahan yang membawa rahmat bagi semesta alam.dan sebagai perekat ummat
MISI
1. Penanaman Nilai Qur’ani (Tahfidz & Tahsin)
Menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak melalui penguatan hafalan, pemahaman (tadabbur), serta pengamalan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
2. Akhlakul Karimah
Membentuk kepribadian santri yang berintegritas tinggi, jujur, tawadhu’, disiplin, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama.
3. Literasi & Penguasaan Ilmu Pengetahuan (Berkemajuan)
Mengembangkan tradisi berpikir kritis, literat, dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi modern tanpa meninggalkan akar keislaman (turats).
4. Pengembangan Keterampilan (Life Skills)
Membekali santri dengan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan kreativitas (problem-solving) agar siap menghadapi tantangan zaman global.
5. Kemandirian dan Jiwa Kewirausahaan (Enterpreneurship)
Menumbuhkan mental mandiri, produktif, dan jiwa wirausaha yang inovatif agar santri mampu berkontribusi nyata bagi kemandirian ekonomi umat.
6. Moderasi Beragama dan Semesta Alam
Menerapkan prinsip Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang moderat (wasathiyah), toleran, serta peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup.

MOTTO
Menekankan pada pembentukan pribadi mukminmuslim yang berakhlaqul-karimah, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran
bebas.
a. Berakhlaqul-karimah :
Berakhlaqul-karimah merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini
kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang
paling tinggi.
b. Berbadan Sehat :
Tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok ini.
Dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah
dengan sebaik-baiknya
c. Berpengetahuan Luas :
Para santri di Pondok ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik
untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari
pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk
membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak
terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berakhlaqul-karimah, sehingga seseorang itu tahu
untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia manambah ilmu;
d. Berpikiran Bebas :
Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak
boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru
kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan
yang telah diterangi petunjuk Ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri
memiliki akhlaqul-karimah dan sesudah ia berpengetahuan luas;
JIWA SANTRI
Seluruh kehidupan didasarkan pada nilai-nilai
yang dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat disimpulkan dalam Jiwa Santri.
Jiwa Santri adalah nilai-nilai yang mendasari kehidupan Pondok Pesantren;
1. Jiwa Keikhlasan :
Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh
keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat
semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam
membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik. Jiwa ini
menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan
santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap
berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun;
2. Jiwa kesederhanaan :
Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif
atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu
terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam
menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani
maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya
mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi
kehidupan;
3. Jiwa Berdikari :
Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang
dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri
sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok
pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga
tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain.
Inilah Zelp berdruiping systeem (sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai).
Dalam pada itu, Pondok tidaklah bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak
membantu. Semua pekerjaan yang ada di dalam pondok dikerjakan oleh kyai dan para
santrinya sendiri, tidak ada pegawai di dalam pondok;
4. Jiwa Ukhuwwah Diniyyah :
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala
suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah diniyyah. Tidak ada dinding
yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok,
tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka
terjun di masyarakat;
5. Jiwa Bebas :
Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam
memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar masyarakat.
Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala
kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu
apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat
hilangnya arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak
mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah
menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah
berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui
saja. Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis
yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu
sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat. Jiwa yang meliputi suasana kehidupan
Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam
kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
